5 Ide Bisnis UMKM dan Cara Menjalankannya, Omzet Bisa Miliaran

by -55 Views
banner 468x60

Simak lima contoh bisnis dari para pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Program Pemberdayaan UMKM “Sampoerna Entrepreneurship Training Center” (SETC) yang disampaikan pada acara Program Bootcamp UMKM Untuk Indonesia (UUI) 2026: Kita Mau Kita Bisa, Menembus Batas, Membuka Pasar Global.

JAKARTA – Memulai usaha
sering kali bukan soal keberanian, tetapi menemukan ide bisnis yang tepat untuk dijalankan. Banyak calon pengusaha
ingin terjun ke dunia bisnis,
namun masih mencari peluang
yang realistis, memiliki pasar, dan dapat dikembangkan dalam jangka panjang.

banner 336x280

Di tengah
beragamnya kebutuhan konsumen, peluang usaha bisa muncul dari berbagai sektor. Produk sederhana pun dapat
memiliki nilai ekonomi lebih besar ketika dikembangkan melalui inovasi, strategi pemasaran, dan perluasan pasar.

Simak lima contoh bisnis
dari para pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)
binaan Program Pemberdayaan UMKM “Sampoerna Entrepreneurship
Training Center” (SETC)
yang disampaikan pada acara
Program Bootcamp UMKM Untuk
Indonesia (UUI) 2026: Kita Mau Kita Bisa, Menembus Batas, Membuka Pasar Global. Bukan hanya soal produk, tetapi juga
bagaimana bisnis dikembangkan hingga mampu membuka pasar baru dan berpotensi mencapai omzet miliaran.

 1.  Custom Seragam Korporasi

Temasira mengembangkan produk fashion custom yang tidak hanya mengandalkan logo, tetapi mengangkat cerita dan identitas perusahaan ke dalam desain.
Owner Temasira, Ali Eunoia, mengatakan proses tersebut
dimulai dengan memahami nilai, ideologi, dan kebutuhan klien sebelum
diterjemahkan menjadi desain dan produk.

Dari media sosial dan iklan digital,
Temasira mulai membuka peluang ke pasar korporasi. Menurut Ali, pada awalnya
ia belum secara khusus
memikirkan strategi mendekati pasar corporate. Namun,
iklan yang ditayangkan justru mendatangkan pemilik bisnis yang membutuhkan
produk dalam jumlah besar.

“Awalnya kami tidak kepikiran bagaimana approaching corporate. Ternyata dari iklan
saja ada business owner yang datang,” ujar Ali.

Temasira kemudian
mengembangkan pendekatan one-on-one untuk menggali kebutuhan calon klien. Kebutuhan tersebut
tidak hanya berupa seragam kerja, tetapi juga apparel event dan merchandise. Dari
pendekatan tersebut, Temasira bahkan menemukan calon klien dengan anggaran
sekitar Rp1,5 miliar untuk kebutuhan apparel dan merchandise.

Selain menawarkan custom motif dengan
minimum order mulai 30 pieces, Temasira juga memberikan rekomendasi material dan desain sesuai kebutuhan klien serta menyediakan opsi express production.

2. 
Memanfaatkan Pisang

Bananania melihat
keterbatasan daya simpan pisang sebagai peluang untuk menciptakan produk
bernilai tambah. Owner Bananania, Sofyani Mirah, mengatakan pihaknya mengolah
pisang menjadi keripik, selai, tepung pisang gluten-free, hingga cookies berbahan
100 persen pisang.

 Bisnis tersebut
juga dibangun dengan melibatkan petani. Karena hasil kebun sendiri belum mampu memenuhi
seluruh kebutuhan bahan baku, Bananania
bekerja sama dengan sejumlah
petani dan menerapkan SOP serta quality control untuk menjaga kualitas.
Bananania juga telah menerapkan standar Hazard Analysis Critical Control
Point
(HACCP) dan Good Manufacturing Practices (GMP).

Dari sisi pasar,
produk Bananania telah masuk ke lebih dari 600 outlet dan dipasarkan melalui
kanal online maupun offline. Bananania juga telah melakukan
ekspor ke Kanada, Malaysia, Filipina, Australia, dan Amerika Serikat,
serta mempersiapkan ekspansi
ke Korea Selatan.

Ke depan, Bananania
membuka peluang melalui perluasan distribusi, ekspor, dan co-branding.
Bananania juga mengembangkan konsep zero waste dengan memanfaatkan kulit
pisang sebagai bahan
baku enzim yang kemudian digunakan sebagai pupuk. Strategi
tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan nilai ekonomi lebih besar
dari komoditas lokal.

 3.  Budaya Makan Sambal

Quinn
of Spicy melihat budaya makan masyarakat Indonesia yang sulit dipisahkan dari
sambal sebagai peluang bisnis. Produk ini memadukan cabai dengan andaliman, rempah khas Sumatera
Utara, yang memberikan sensasi pedas dan aroma khas.

“Kami menggabungkannya dengan rempah khas,
namanya andaliman. Menghasilkan rasa pedas dan aroma yang khas,” ujar Owner Quinn of Spicy,
Rudy Yanto.

Sejak berdiri
pada 2020, Quinn of Spicy memperluas bisnis dari kanal digital ke modern
trade
. Produknya disebut telah terjual lebih dari 400 ribu unit di lokapasar
dengan rating 4,5 dari lebih
dari 30 ribu penilaian konsumen. Kapasitas produksi kini mencapai sekitar
20 ribu pieces per bulan dengan dukungan sekitar 25 pekerja
lokal.

Selain memperluas distribusi ke jaringan modern
trade
di Sumatera, Quinn of Spicy juga memberdayakan tenaga kerja lokal,
memberikan edukasi kepada
UMKM, serta mengolah limbah produksi menjadi pupuk
kompos.

Setelah membangun pasar domestik, Quinn of Spicy mulai membidik
pasar internasional dengan
mengikuti World Food Expo dan Food Hall di Singapura.

4.  Makanan Sehat

Granola Addict
mengembangkan produk berbasis sereal seperti granola, muesli, premix, hingga
biskuit. Bisnis yang dikembangkan Owner Granola Addict, Steven Kurniawan,
tersebut awalnya bertumbuh
melalui lokapasar sebelum
memperluas penjualan ke pasar
offline dan business-to-business (B2B), termasuk sektor
perhotelan.

Pandemi COVID-19
sempat menekan penjualan online. Kondisi tersebut
mendorong Granola Addict
mencari kanal pasar baru dengan masuk ke hotel-hotel. Strategi ini kemudian
membuka peluang baru, terutama di Bali yang kini menjadi salah satu pasar utama
perusahaan.

Steven menyebut masih terdapat ribuan
hotel di Indonesia
yang belum digarap.
Karena itu, sektor perhotelan dinilai
masih memberikan ruang
ekspansi, dengan dukungan
relasi bisnis dan jaringan
vendor yang telah dibangun.

“Untuk pengembangan ke depannya, kita mungkin akan masuk ke daerah-daerah dengan pasar yang potensial ataupun nanti
ke luar negeri,” kata Steven.

5.  Camilan Sehat Kaya Rasa

Casa Grata hadir
sejak 2018 dengan menawarkan camilan yang menggabungkan aspek kesehatan dan
cita rasa. Owner Casa Grata, Jane Tanuwijaya, mengatakan produknya dirancang bagi konsumen yang ingin menikmati camilan tanpa mengesampingkan gaya hidup sehat.

Diferensiasi Casa Grata terletak
pada produk gluten-free, sugar-free, vegan, yang telah memenuhi ketentuan halal. Saat
ini, Casa Grata memiliki 10 varian rasa dan terus mengembangkan produk melalui product
extension
, termasuk cake flavors dan dip.

Selain menyasar
konsumen individu melalui
B2C, Casa Grata
mengembangkan pasar B2B melalui kanal online, offline
event, retail
, supermarket, corporate, hingga ekspor. Mereka juga
melihat peluang di sektor maskapai penerbangan, hotel, dan resort serta
menjajaki kerja sama dengan buyer internasional.

Perluasan
pasar tersebut diikuti
dengan peningkatan kapasitas
dan efisiensi produksi. Dengan diferensiasi produk sehat yang tetap mengedepankan rasa,
pilihan varian, dan fleksibilitas distribusi, Casa Grata menargetkan produknya
semakin mudah diakses konsumen di pasar Indonesia maupun internasional.

Sebagai informasi, SETC merupakan program pemberdayaan UMKM yang digagas
PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) di bawah payung Program
Keberlanjutan “Sampoerna Untuk Indonesia”.

SETC juga memiliki
30 Collaborator Hub di 17 provinsi yang mendampingi lebih
dari 2.300 UMKM secara
berkelanjutan. Jejaring tersebut berperan sebagai local enabler dalam memperkuat kapabilitas pengusaha UMKM, membuka akses pasar, dan meningkatkan
daya saing.

Melalui pelatihan, pendampingan, jejaring kolaborasi, dan akses pasar,
SETC berupaya membantu pelaku
UMKM membangun fondasi
usaha agar mampu
menangkap peluang pertumbuhan
yang lebih besar.

banner 336x280

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

No More Posts Available.

No more pages to load.