Bapanas Bangun Hilirisasi Sorgum di Karawang dan Bandung

by -31 Views
by
banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) mempercepat pengembangan sorgum di Kabupaten Karawang dan Kota Bandung, Jawa Barat, dengan fokus penguatan pada teknologi pengolahan. Pengembanfan ini untuk memastikan pangan lokal tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi masuk ke rantai pasok bernilai tambah hingga produk siap konsumsi.

banner 336x280

Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional Andriko Noto Susanto mengatakan, pengembangan sorgum di dua wilayah tersebut dibangun secara terintegrasi dari hulu ke hilir melalui pemanfaatan teknologi. “Di wilayah ini, sorgum dikembangkan sebagai komoditas adaptif yang mampu diolah menjadi beragam produk pangan dengan nilai ekonomi lebih tinggi,” kata Andriko, Sabtu (3/1/2026).



Andriko menjelaskan, penguatan pangan lokal harus ditopang teknologi agar memberi dampak langsung bagi petani dan UMKM. Bapanas memfasilitasi pengolahan pascapanen melalui penyediaan alat perontok, penyosoh, penepung, pengering, hingga peralatan pendukung lain guna memperkuat kapasitas produksi.

“Kita baru saja mengunjungi dua tempat pengolahan sorgum di Karawang dan Bandung, pengembangan sorgum ini akan kita bangun dari hulu sampai hilir. Petani memproduksi, hasilnya diserap oleh UMKM, lalu diolah menjadi produk pangan siap konsumsi yang bernilai tambah,” ujar Andriko.

Dukungan tersebut mendorong UMKM sorgum di Karawang menghasilkan berbagai olahan, mulai dari bubur, kerupuk, tepung sorgum, hingga cookies. Salah satu produk, cookies sorgum, telah masuk ke Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di kawasan Karawang.

Menurut Andriko, masuknya produk sorgum ke MBG menunjukkan pangan lokal olahan memiliki peluang nyata dalam sistem penyediaan pangan bergizi skala nasional. “Ketika produk pangan lokal sudah bisa masuk ke MBG, itu artinya kualitas, keamanan, dan kontinuitasnya sudah memenuhi kebutuhan,” tuturnya.

Penguatan juga dilakukan melalui pemanfaatan teknologi lanjutan seperti freeze dryer untuk produk berbasis sorgum. Teknologi ini memungkinkan nasi sorgum, bubur, dan sari sorgum memiliki masa simpan lebih panjang dengan kandungan gizi tetap terjaga.

Selain pasar komersial, produk olahan sorgum dan singkong disiapkan untuk mendukung suplai pangan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam Program MBG. Kebijakan ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.

“Ini tentang ekonomi kerakyatan dan kedaulatan pangan. Seluruh rantai dikerjakan di dalam negeri dengan memaksimalkan potensi lokal dan teknologi yang sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Andriko.

sumber : Antara

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.