Bitcoin Kembali Ditolak $87.000, Ini Skenario Harga BTC Berikutnya

by -168 Views
banner 468x60

Ilustrasi pergerakan harga Bitcoin (BTC). Foto: FLOQ.

Jakarta, 6 Oktober 2026 — Harga Bitcoin (BTC) kembali menghadapi tekanan setelah gagal mempertahankan momentum di area US$87.000. Bitcoin hari ini berada di sekitar US$85.513, turun 1,10% dalam 24 jam terakhir, sejalan dengan pelemahan tipis pasar aset kripto secara keseluruhan.

banner 336x280

Pergerakan tersebut membuat area US$87.000 kembali menjadi perhatian pasar. Bitcoin sempat mendekati level tersebut, tetapi belum mampu mengkonfirmasi breakout dan kemudian bergerak turun.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih muncul ketika Bitcoin memasuki area resistance utama. Di pasar derivatif, penurunan juga diperbesar oleh likuidasi posisi leverage yang menambah volatilitas harga.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pergerakan Bitcoin saat ini masih berada dalam fase konsolidasi sehingga pasar perlu mencermati level support dan resistance sebelum melihat arah tren berikutnya.

“Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi setelah beberapa kali menghadapi penolakan di area US$87.000. Level ini menjadi resistance penting karena pasar belum mendapatkan konfirmasi bahwa momentum kenaikan sudah kembali kuat,” kata Yudho.

Menurut Yudho, kegagalan Bitcoin mempertahankan posisi di atas US$87.000 belum serta-merta mengubah struktur pasar menjadi bearish. Namun, tekanan jual dapat meningkat apabila BTC kehilangan support penting di bawah harga saat ini.

“Selama Bitcoin masih mampu bertahan di atas area US$84.500, peluang untuk kembali menguji US$87.000 masih terbuka. Perlu diperhatikan adalah bagaimana respons pasar ketika BTC mendekati resistance tersebut untuk kedua atau ketiga kalinya,” jelasnya.

$84.500 Jadi Level Penting Bitcoin

Ilustrasi harga Bitcoin (BTC) koreksi tipis di dekat level US$85.000. Foto:FLOQ.

Dari sisi teknikal, area US$84.500 menjadi salah satu level yang perlu diperhatikan dalam pergerakan Bitcoin jangka pendek. Level tersebut berada di sekitar retracement Fibonacci 38,2%. Apabila BTC mampu mempertahankan area ini, peluang rebound menuju US$87.000 masih terbuka.

Sebaliknya, analisis FLOQ melihat penurunan di bawah US$84.500 dapat meningkatkan risiko koreksi dapat meningkatkan risiko koreksi lebih dalam menuju area US$82.600. Area US$82.000-US$83.000 juga menjadi zona downside yang perlu diperhatikan apabila tekanan jual semakin kuat.

Yudho menilai level tersebut penting karena pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan kemungkinan masih dipengaruhi oleh tarik-menarik antara aksi ambil untung dan permintaan baru.

“US$84.500 menjadi level yang cukup penting untuk melihat apakah koreksi ini hanya bersifat jangka pendek atau mulai berkembang menjadi tekanan jual yang lebih besar. Jika level tersebut bertahan, struktur konsolidasinya masih relatif terjaga,” jelas Yudho.

Ia menambahkan, pasar juga perlu melihat apakah Bitcoin mampu mengubah area resistance menjadi support baru. “Sebaliknya, kalau BTC berhasil menembus US$87.000 dan kemudian mampu bertahan di atasnya, pasar akan mendapatkan konfirmasi yang lebih kuat

“Jika Bitcoin berhasil menembus US$87.000 dan mampu bertahan di atas level tersebut, pasar akan mendapatkan sinyal yang lebih kuat bahwa tekanan beli mulai kembali mendominasi. Karena itu, pergerakan Bitcoin di area US$87.000–U$S87.400 menjadi penting untuk diperhatikan,” lanjutnya.

Peluang Bitcoin Menuju US$93.000 Masih Terbuka

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pergerakan Bitcoin saat ini masih berada dalam fase konsolidasi. Foto: FLOQ.

Meski masih tertahan di bawah US87.000,peluang Bitcoin menuju US$90.000–US$93.000 masih terbuka jika tekanan jual mereda dan kondisi makro mendukung.

Yudho mengatakan arah Treasury yields dan ekspektasi kebijakan The Fed menjadi faktor yang perlu diperhatikan. “Kalau Treasury yields mulai melandai dan ekspektasi kenaikan suku bunga semakin berkurang, aset berisiko seperti Bitcoin bisa mendapatkan ruang yang lebih besar. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diikuti oleh permintaan spot yang kuat,” tuturnya.

Skenario menuju US$90.000-US$93.000 juga menjadi perhatian dalam analisis pasar, dengan penurunan Treasury yields dan penguatan permintaan menjadi faktor pendukung. Namun, Yudho menilai Bitcoin tetap membutuhkan konfirmasi dari sisi harga dan volume untuk menembus resistance US$87.000.

“Pasar tetap membutuhkan konfirmasi dari sisi harga dan volume. Kalau tekanan jual di area US$87.000 berhasil diserap dan Bitcoin mencatatkan breakout yang valid, US$90.000 hingga US$93.000 bisa menjadi area berikutnya yang diperhatikan. Namun, ini tetap merupakan skenario, bukan kepastian harga,” katanya.

Fed Minutes Jadi Katalis Berikutnya

Pasar juga akan mencermati rilis Fed Minutes pada 7 Oktober 2026 untuk melihat arah kebijakan moneter AS. Menurut Yudho, komunikasi The Fed dan pergerakan yield dapat mempengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

“Kalau komunikasinya cenderung memberikan ruang untuk kebijakan yang lebih longgar dan yield ikut turun, sentimen terhadap Bitcoin bisa membaik. Sebaliknya, jika risiko inflasi kembali meningkat dan yield naik, tekanan terhadap aset berisiko bisa muncul lagi,” jelasnya.

Selama BTC bertahan di atas US$84.500, peluan untuk kembali menguji US$87.000 masih terbuka. “Untuk saat ini, pasar masih menunggu konfirmasi. US$84.000 dan US$87.000 menjadi dua level penting untuk diperhatikan. Breakout atau breakdown dari area tersebut akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai arah Bitcoin berikutnya,” tutup Yudho.

banner 336x280

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

No More Posts Available.

No more pages to load.