Dilarang Sejak 2021, Mengapa Plastik Sekali Pakai Masih Dominan di Eropa?

by -23 Views
by
banner 468x60


Pegawai melayani pesanan pelanggan dengan sistem take away di salah satu kafe di Jalan Sumur Bandung, Kota Bandung, Selasa (1/12). Gugus Tugas Covid-19 Kota Bandung mengimbau agar kafe, restoran atau sektor usaha pariwisata lainnya untuk kembali memberlakukan pelayanan take away (bawa pulang) dan jam operasional berkurang hingga pukul 19.00 dampak dari perubahan status level kewaspadaan penyebaran Covid-19 Kota Bandung dari zona oranye menjadi zona merah. Foto: Abdan Syakura/Republika

banner 336x280

REPUBLIKA.CO.ID,BERLIN — Meski Uni Eropa sudah resmi melarang penggunaan plastik sekali pakai sejak tahun 2021, realitas di lapangan menunjukkan pemandangan yang kontradiktif. Sedotan plastik, alat makan sekali pakai, hingga wadah Styrofoam masih jamak ditemukan di meja-meja gerai makanan cepat saji, kedai kopi, dan restoran di seantero Eropa.

Hal ini membuktikan ketergantungan terhadap plastik yang merupakan salah satu materi paling mencemari ini masih sangat sulit diputus. Uni Eropa menargetkan pelarangan sejumlah barang plastik setelah menemukan fakta 85 persen sampah yang terdampar di garis pantai Benua Biru merupakan plastik, di mana hampir separuhnya adalah barang sekali pakai. 



Langkah ini diambil bukan sekadar untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga untuk mengatasi masalah kesehatan yang kian mendesak. Plastik yang terbuang ke alam dapat melepaskan bahan kimia berbahaya dan partikel mikro yang masuk ke rantai makanan dan tubuh manusia, yang berpotensi memicu risiko kesehatan serius termasuk kanker dan masalah kesuburan.

Logika awal kebijakan ini cukup sederhana: dengan melarang penjualan, produksi, dan impor barang-barang plastik yang paling mencemari, masalah sampah plastik diharapkan akan lenyap. Namun, laporan terbaru mengungkapkan kenyataan yang jauh lebih rumit. 

Dikutip dari Deutsche Welle (DW), Sabtu (3/1/226) berdasarkan survei yang dilakukan organisasi non-pemerintah Environmental Action Germany (DUH) pada tahun 2024, sekitar 70 persen restoran di Berlin masih menggunakan plastik untuk layanan bawa pulang (takeaway). 

Laporan berskala benua dari lima NGO lainnya pada tahun yang sama mengkonfirmasi plastik-plastik terlarang ini masih tersedia secara luas di sebagian besar negara Eropa.


Advertisement

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.