Indonesia Kalah dari Singapura di Pasar Kripto Asia, Apa yang Harus Dikejar?

by -71 Views
banner 468x60

Menurut CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, Indonesia memiliki basis pengguna aset kripto yang besar. Foto: FLOQ.

Jakarta, 8 Oktober 2026 – Indonesia memiliki basis pengguna aset kripto yang besar, tetapi masih tertinggal dari Singapura dalam menjadikan aset digital sebagai bagian dari infrastruktur keuangan dan menarik aktivitas institusional.

banner 336x280

Temuan tersebut tercermin dalam riset terbaru Chainalysis bertajuk 2026 Geography of Crypto Report. Dalam periode Juli 2025 hingga Juni 2026, Singapura tercatat sebagai ekonomi kripto terbesar di kawasan Central & Southeast Asia and Oceania (CSAO), dengan aktivitas mencapai US$284 miliar, tumbuh 55,4 persen secara tahunan.

Sebaliknya, pasar kripto di kawasan secara keseluruhan justru mengalami kontraksi 6,8 persen. Namun, Singapura mampu mencatat pertumbuhan di berbagai indikator, mulai dari aktivitas centralized exchange (CEX), decentralized exchange (DEX), hingga aktivitas institusional.

Hal paling menonjol adalah aktivitas melalui platform institusional di Singapura yang melonjak 94 persen menjadi US$60 miliar. Aktivitas tersebut mencakup market maker, broker institusional, OTC, dan layanan lain yang melayani investor serta pelaku pasar berskala besar.

Sementara itu, Chainalysis menilai perkembangan pasar kripto di kawasan Asia mulai bergerak dari sekadar aktivitas perdagangan menuju pemanfaatan aset digital untuk kebutuhan yang lebih luas, seperti pembayaran lintas negara, tokenisasi aset, dan manajemen treasury perusahaan.

Indonesia Punya Basis Pengguna, tetapi Tantangannya Berbeda

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mengejar posisi tersebut.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital mencapai 23,21 juta akun pada Agustus 2026, meningkat 1,23 persen dibandingkan Juli yang berada di level 22,93 juta akun.

Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto Indonesia mencapai Rp23,16 triliun, naik 12,87 persen secara bulanan dari Rp20,52 triliun pada Juli 2026.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar domestik tetap memiliki basis pengguna dan aktivitas transaksi yang kuat. Namun, besarnya jumlah pengguna belum otomatis membuat Indonesia menjadi pusat aktivitas aset digital regional.

Perbedaan tersebut menjadi semakin terlihat jika dibandingkan dengan pendekatan Singapura. Chainalysis mencatat pertumbuhan Singapura terutama ditopang oleh masuknya institusi, pengembangan infrastruktur pasar, serta penggunaan aset digital untuk kebutuhan finansial yang lebih luas.

Di Singapura, arus ke centralized exchange tumbuh 30 persen, sedangkan arus ke decentralized exchange meningkat 69 persen dalam periode penelitian. Pada saat yang sama, aktivitas platform institusional tumbuh jauh lebih cepat, yakni 94 persen.

Artinya, kompetisi pasar kripto ke depan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak orang yang memiliki atau memperdagangkan aset kripto, termasuk Bitcoin tetapi juga oleh seberapa besar ekosistem tersebut mampu menarik institusi, modal, infrastruktur, dan use case baru.

Mengapa Singapura Bisa Lebih Unggul?

Salah satu faktor utama yang membedakan Singapura adalah kepastian dan perkembangan kerangka regulasi untuk aset digital.

Chainalysis mencatat bahwa rezim lisensi Digital Payment Token (DPT) serta kerangka regulasi stablecoin di Singapura memberikan dasar yang relatif jelas bagi perusahaan dan investor institusional untuk mengembangkan berbagai use case aset digital.

Kondisi tersebut membuat pasar Singapura berkembang bukan hanya sebagai tempat transaksi aset kripto, tetapi juga sebagai pusat aktivitas perdagangan institusional, kustodian, market making, OTC, tokenisasi, dan penyelesaian transaksi lintas negara.

Dalam laporan yang sama, Chainalysis mencatat bahwa stablecoin semakin banyak digunakan untuk transaksi lintas negara di kawasan. Bahkan, aktivitas stablecoin lintas negara di seluruh pasar yang dianalisis lebih besar dibandingkan aktivitas domestiknya.

Perubahan ini menjadi sinyal penting bagi Indonesia.

Pasar domestik yang besar perlu dilanjutkan dengan pengembangan infrastruktur dan produk yang memungkinkan aset digital digunakan untuk kebutuhan ekonomi yang lebih luas.

Indonesia Punya Momentum untuk Mengejar

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan omentum bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan ekosistem aset digital. Foto: FLOQ.

Menurut CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, perbandingan tersebut seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan ekosistem aset digital, bukan sekadar melihat besarnya volume perdagangan.

“Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat kuat. Kita punya basis pengguna yang besar, pertumbuhan transaksi yang signifikan, serta ekosistem pelaku industri yang terus berkembang. Tantangannya sekarang adalah bagaimana modal tersebut kita naikkan kelas menjadi ekosistem yang mampu menarik lebih banyak institusi dan menghasilkan use case yang lebih luas,” kata Yudho.

Ia menilai pertumbuhan industri kripto Indonesia ke depan perlu diarahkan dari sekadar aktivitas trading menuju pengembangan produk dan infrastruktur yang memiliki manfaat nyata bagi ekonomi digital.

“Kita perlu bergerak dari crypto as an asset menuju crypto and blockchain as infrastructure. Artinya, selain perdagangan, kita perlu mendorong inovasi di area seperti tokenisasi, stablecoin, pembayaran lintas negara, kustodian, serta berbagai layanan yang dapat terintegrasi dengan sistem keuangan. Di situlah Indonesia punya peluang untuk mengejar Singapura,” jelasnya Yudho.

Menurutnya, besarnya jumlah pengguna kripto di Indonesia merupakan fondasi penting untuk membangun ekosistem yang lebih besar.

Data OJK memperlihatkan jumlah akun konsumen aset digital telah mencapai 23,21 juta pada Agustus 2026. Pada saat yang sama, OJK juga telah memperkuat struktur industri dengan memberikan persetujuan kepada 34 entitas dalam ekosistem perdagangan aset kripto, yang terdiri dari dua bursa, dua lembaga kliring, dua kustodian, dan 28 Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD).

OJK juga mencatat bahwa hingga September 2026 terdapat perkembangan pada berbagai model bisnis aset digital melalui regulatory sandbox. Beberapa model yang telah menyelesaikan uji coba antara lain tokenisasi emas, tokenisasi surat berharga, tokenisasi manfaat kepemilikan properti, penerbit stablecoin Rupiah, kustodian aset digital nonperdagangan, dan manajer dana kripto.

Menurut Yudho, perkembangan tersebut dapat menjadi titik awal bagi Indonesia untuk memperluas fungsi aset digital.

“Regulasi yang semakin jelas dan infrastruktur yang mulai terbentuk adalah fondasi yang sangat penting. Berikutnya adalah bagaimana industri, regulator, lembaga keuangan, dan pelaku teknologi bisa membangun use case bersama. Jika kita berhasil menghubungkan basis pengguna yang besar dengan inovasi institusional dan kebutuhan ekonomi nyata, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi bisa menjadi salah satu pusat pertumbuhan aset digital di kawasan,” ujarnya.

Mengejar Singapura Bukan Sekadar Mengejar Volume

Data Chainalysis menunjukkan bahwa Singapura saat ini berada di posisi yang kuat bukan semata-mata karena volume transaksinya, tetapi karena struktur ekosistemnya.

Aktivitas institusional di kawasan CSAO mencapai US$152,3 miliar selama periode penelitian dan tumbuh 40 persen secara tahunan. Porsi aktivitas platform institusional juga meningkat menjadi 18,9 persen dari keseluruhan aktivitas kawasan pada akhir kuartal II 2026.

Indonesia pun mulai menunjukkan arah yang sama. Chainalysis mencatat bahwa keterlibatan antara perusahaan kripto dan institusi keuangan tradisional di Indonesia semakin meningkat. Laporan tersebut juga menyoroti pergeseran menuju use case seperti real-world assets dan investment token.

Dengan demikian, pekerjaan rumah Indonesia bukan hanya meningkatkan jumlah transaksi, melainkan membangun ekosistem yang dapat membuat modal institusional masuk, produk baru berkembang, dan teknologi blockchain digunakan untuk kebutuhan ekonomi riil.

Besarnya pasar domestik memberikan Indonesia keunggulan dari sisi basis pengguna. Jika dikombinasikan dengan regulasi yang semakin matang, infrastruktur perdagangan yang kuat, inovasi produk, serta keterlibatan institusi keuangan, Indonesia memiliki peluang untuk mempersempit jarak dengan Singapura.

“Kalau Singapura sudah menunjukkan bagaimana aset digital bisa menjadi bagian dari infrastruktur keuangan, Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun modelnya sendiri dengan kekuatan pasar domestik yang jauh lebih besar. Yang penting adalah kita tidak berhenti pada pertumbuhan jumlah pengguna dan transaksi, tetapi terus naik kelas menuju inovasi dan utilitas,” tutup CEO FLOQ.

banner 336x280

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

No More Posts Available.

No more pages to load.