Jakarta –
Tradisi masyarakat Indonesia berkirim ucapan selamat lebaran ternyata sudah ada sejak lama. Jika kini cukup mengirim broadcast lewat WhatsApp, dulu masyarakat harus berjubel dulu di kantor pos.
Kronik kenangan lebaran tempo doeloe ini salah satunya terekam dalam arsip koran Merdeka 2 Agustus 1980. Arsip ini diakses dari Koleksi Perpustakaan Nasional RI.
Dulu belum ada teknologi yang bisa memudahkan orang mengirimkan pesan ucapan selamat lebaran. Ucapan selamat lebaran masih disampaikan dengan kartu lebaran. Kartu ini yang nantinya dikirim ke sanak keluarga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kartu Lebaran Dilukis
Masyarakat dulu berbondong-bondong membeli kartu ucapan lebaran di Kantor Pos. Namun, mereka tidak mengirim kartu itu polosan saja. Pada era 80-an, kartu ucapan lebaran dilukis sedemikian rupa agar menarik.
![]() |
Oleh karena itu, dulu banyak pelukis yang menawarkan jasanya untuk melukis kartu lebaran. Biasanya para pelukis ini mangkal di sekitar kantor pos. Mereka pun biasanya mendapat pesanan untuk melukis kartu lebaran ke banyak orang, sehingga lukisannya pun berbeda.
ADVERTISEMENT
Berdesakan di Kantor Pos
Setelah kartu lebaran dilukis, masyarakat pada masa itu tetap harus mengantre di Kantor Pos. Masyarakat benar-benar membanjiri Kantor Pos saat menjelang lebaran. Semua bersedia berdesakan agar bisa mengirim kartu ucapan lebaran. Zaman ini juga merupakan masa keemasan Kantor Pos.
Salah satu Kantor Pos yang ramai dikunjungi saat itu ialah Kantor Pos di Jalan Asia Afrika Bandung. Dalam arsip koran Pikiran Rakyat koleksi Perpusnas, pada tanggal 17 Agustus 1980 masyarakat Bandung berjubel di Kantor Pos. Mereka rela mengantre berjam-jam untuk mengirim kartu lebaran.
![]() |
Kini, tradisi ini telah berubah. Masyarakat cukup menulis kalimat ucapan lebaran lalu mengirimkannya melalui WhatsApp atau membagikannya di media sosial.
(rdp/imk)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini