Pasar Kripto Kembali Berdarah, Ini Prediksi Harga Bitcoin pada November 2026

by -43 Views
banner 468x60

Ilustrasi pergerakan harga BItcoin (BTC) yang terkoreksi di aplikasi FLOQ. Foto: FLOQ.

Jakarta, 6 November 2026 — Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan pada awal November 2026. Setelah sempat menguat di atas US$81.000, BTC justru terkoreksi hingga menyentuh kisaran US$76.000 pada 5 November 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual besar-besaran di pasar saham Amerika Serikat (AS), terutama sektor teknologi, yang turut memengaruhi sentimen pasar kripto.

banner 336x280

Menurut CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, tekanan terhadap Bitcoin perlu dilihat dalam konteks kondisi pasar yang lebih luas. Penurunan tajam saham teknologi AS, khususnya sektor semikonduktor, menunjukkan adanya pengurangan eksposur investor terhadap aset berisiko. 

“Salah satu sentimen yang memengaruhi pasar adalah kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Sela AS, yang memunculkan kekhawatiran mengenai potensi regulasi dan pembatasan lebih ketat terhadap pengembangan teknologi AI, termasuk super AI. Ketidakpastian tersebut turut menekan prospek perusahaan teknologi dan memicu aksi jual di pasar saham AS,” ungkap Yudho. 

Berdasarkan data CoinGecko, Bitcoin turun sekitar 5,8% dalam 24 jam hingga 5 November dan diperdagangkan di sekitar US$75.954. Koreksi juga terjadi pada aset kripto lainnya, dengan Ethereum (ETH) melemah 7,5% ke US$2,251 dan Solana (SOL) turun 7,9% ke US$89,16. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan turut menyusut 4,6% menjadi disekitar US$2,66 triliun.

Salah satu faktor yang menekan harga Bitcoin adalah pelemahan saham teknologi AS. Pada perdagangan 5 November, Nasdaq Composite turun 4,7%, sementara S&P 500 melemah 3,5%. Saham Nvidia terkoreksi 7,5% dan AMD anjlok sekitar 14,6%.

“Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan sentimen di pasar saham dapat merembet ke pasar kripto. Ketika investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, Bitcoin dan aset digital lainnya berpotensi ikut mengalami tekanan jual,” jelas Yudho.

Pemilu Sela AS dan Arus Dana ETF Jadi Perhatian

Pergerakan harga Bitcoin (BTC) anjlok usai pasar saham AS terkoreksi pada Jumat, 6 November 2026. Foto: FLOQ.

Selain pasar saham, pemilu sela AS (US Midterm Elections) pada 3 November 2026 juga menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati. Perkembangan politik AS berpotensi mempengaruhi ekspektasi investor terhadap kebijakan ekonomi, regulasi industri kripto, serta arah pasar keuangan global.

Di sisi lain, arus dana ETF Bitcoin spot di AS masih menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Produk investasi tersebut mencatatkan arus keluar bersih sebesar US$115,6 juta pada 3 November. Secara akumulatif, penarikan dana bahkan telah melampaui US$1,15 miliar dalam tiga sesi perdagangan.

Meski demikian, pada 4 November ETF Bitcoin spot kembali mencatatkan arus masuk bersih sebesar US$74,6 juta. Perubahan ini menunjukkan bahwa minat investor institusional masih bergerak dinamis di tengah ketidakpastian pasar.

“Arus dana ETF Bitcoin sempat kembali positif, hal ini belum cukup untuk memastikan pemulihan harga secara berkelanjutan. Investor masih perlu mencermati perkembangan sentimen global dan stabilitas pasar dalam beberapa pekan ke depan,” ujar Yudho.

Tekanan juga terlihat di pasar derivatif. Data FLOQ menunjukkan total likuidasi pasar kripto mencapai sekitar US$1,08 miliar dalam 24 jam, dengan US$954,38 juta berasal dari posisi long. Besarnya likuidasi ini mengindikasikan banyak trader yang mengantisipasi kenaikan harga justru terkena tekanan ketika Bitcoin kembali terkoreksi.

Prediksi Harga Bitcoin November 2026

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, melihat Bitcoin masih menghadapi tantangan untuk membalikkan tren penurunan. Foto: FLOQ.

Dari sisi teknikal, Bitcoin masih menghadapi tantangan untuk membalikkan tren penurunan. Berdasarkan grafik harian TradingView pada 5 November 2026, BTC masih bergerak dalam pola descending channel atau kanal menurun.

Indikator Bollinger Bands menunjukkan area US$80.139 sebagai rata-rata pergerakan 20 hari sekaligus resisten awal yang perlu ditembus. Jika, BTC mampu kembali di atas US$80.000, peluang penguatan menuju US$81.000–US$82.000 terbuka. Penembusan area tersebut berpotensi membawa BTC menguji level US$85.000.

Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut, area US$75.000-US$76.000 menjadi support penting yang perlu dipertahankan. Apabila level tersebut ditembus, Bitcoin berpotensi mengalami koreksi lebih dalam menuju kisaran US$73.000.

Yudho menilai Bitcoin masih berada dalam fase pergerakan tidak menentu atau chop zone. Menurutnya, area US$75.000 dan US$90.000 menjadi batas penting yang perlu diperhatikan sebelum arah pasar terlihat lebih jelas.

“Pergerakan Bitcoin sepanjang November 2026 diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas. Kondisi saham teknologi AS, perkembangan kebijakan pasca pemilu, arus dana ETF, serta sentimen investor akan menjadi sejumlah faktor yang mempengaruhi arah harga BTC,” tuturnya.

Investor perlu mencermati perkembangan pasar dan mengelola risiko sebelum mengambil keputusan transaksi. Perlu diingat, aset kripto memiliki volatilitas tinggi sehingga pergerakan harga dapat berubah dengan cepat.

banner 336x280

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

No More Posts Available.

No more pages to load.